21 Oktober, 2022

Cerita Seks Istriku Alim Dirampok dan Diperkosa Maling Malah Keenakan



Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Fatimah istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.


Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama
kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.

Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,

“Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..”

Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.

Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika ‘klakep’ sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.

Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.

Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang,
  Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.

Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Fatimah istriku itu.

Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Fatimah istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.

Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik,
“Diam nyonya cantiikk..” saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.

“Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.

Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan Memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.

Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa- apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.

Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.

Karena tak mendapatkan apa yang dicari Maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,

“Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?”

Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Fatimah yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.

Kini aku benar-benar sangat takut. Segala Kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Fatimah dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang.

“Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?” sambil tangan turun menyentuh tubuh Fatimah yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannyaterikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.

Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Fatimah demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil Memperdengarkan suara dari hidungnya,
“Hheehh.. Hheehh.. Heehh..”.
Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus- elus dan kemudian meremas-remas buah dada Fatimah serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bias menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.

“Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,”dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.

Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu Yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Fatimah telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.

Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Fatimah istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bias menggoyahkan iman para lelaki.

Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.

Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.

Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Fatimah. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Fatimah istriku ini.

Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Fatimah dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati puser Fatimah sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.

Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya ‘down’ dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat- jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.

Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.

Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kont*l maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya kont*l itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.

Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.

Dalam ketakutan dan panik istriku Fatimah melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya ’surprise’ yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.

Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Fatimah bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah ’surprise’ yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.

Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Fatimah yang terikat. Dia meraih kaki Fatimah yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.

Aku menyaksikan kaki Fatimah yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang- regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jialatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.

Dengan caranya maling itu memang sengaja Menjatuhkan martabatku sebagai suami Fatimah.

“Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku ent*t ya? Boleh.. Ha ha. Aku ent*t istrimu yaa..”

Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.

Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Fatimah saat kont*l maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita kont*lku jadi menegang. Aku ngaceng.

Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke Selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Fatimah serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.

  Dan klimaks dari pergulatan ‘perkosaan’ itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke Bibir vagina Fatimah. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..

Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Fatimah menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Fatimah menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Fatimah meraih orgasmenya.. Nittaa..

Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap Diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.

Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Fatimah Kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kont*lnya ke lubang vaginanya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjangnya itu tembus dan amblas ditelan mem*k istriku.

Maling itu langsung mengayun-ayunkan kont*lnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kont*l itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.

Aku sendiri demikian terbakar birahi Menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatugh ke dahi dan alisnya. kont*lku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk Melepaskan dorongan syahwatku.

Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kont*lnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi mem*k istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kont*l lelaki maling itu.

Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang ke dua.

Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya pagutan. Dan ahh.. ahh.. aahh..

Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Fatimah terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Fatimah istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya.
Hingga…

“Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr..
Hhoohh.. Ampun
enaknyaa..”

Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.

Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kont*lnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan spermanya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang vagina Fatimah. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.

Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T.Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Fatimah yang telanjang sesudah diperkosanya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.

Fatimah nampak bengong sambil melihati aku,

“Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..” Fatimah sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.

Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.

Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.

Tamat

Aku memastikan bahwa Fatimah telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Fatimah dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kont*lku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yangharus aku saksikan itu.
Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.

“Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..” kembali istriku ‘klakep’ dan sepi.

Cerita Seks Istri Iparku Yang Alim Ku Entot Lalu Ketagihan


Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami.


Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai.

Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari, Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua.

Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.

Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi.

Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.

Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci.

Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.

Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini.

Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.

Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang.

Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. "E..eee..maaf Uni, aku kira nggak ada orang," kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu.

Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.

Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.

"Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumha ini," kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.

Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata "i..i..iya , tidak apa-apa.". Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas smengetok pintu kamar Uni.

"Ada apa Andy," ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. "Uni, maafkan Andy ya..aku lupa kalau ada tamu dirumah ini," kataku merangkai obrolan biar nyambung.

"Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi," balasnya tanpa mau menatap aku. "Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu," kataku memancing reaksinya.

"Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana," katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.

"Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau." Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku.

Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya. Cerita Dewasa

"Jangan Ndy..dosa," katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran..putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.

Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.

Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekkuUni masih diam.

Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher..perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil..turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahkuturun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.

Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ," Ahhhhhhhh"

"Kenapa UniSakit?," tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung.."Andyyyyyyy.. ayo Andyjangan siksa aku dengan nikmat..ayo Andy tuntaskanUni udah nggak tahan," katanya.

Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.

Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya.

Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, "Ahhhhhhhhhhhhhhhh..," lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. "Jangan keluarin didalam aku lagi subur," suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.

Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. "Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya," balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.

Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.

"Andy..kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan," kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.

Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan.

Cerita Seks Istri Alim Diperkosa dan Dipaksa Mengoral Kontol

 



Suatu malam seorang perampok menyusup masuk ke dalam sebuah rumah. Dengan mengendap-endap ia melewati ruang tamu dan memasuki sebuah kamar tidur. Saat ia sedang memeriksa keadaan ruangannya badannya menyenggol botol parfum di atas meja rias

"Pryang!"
Suara kaca pecah membangunkan suami istri yang sedang terlelap di kamar itu.

"Siapa kamu!" sergah sang suami.

Merasa situasi yang tidak menguntungkan sang perampok segera melompat dan dengan cepat menodongkan sebilah parangnya ke leher laki-laki paruh baya yang badannya kekar itu.

"Diam! Jangan macam-macam kalian."

Kaget bercampur takut melihat benda tajam menempel di leher suaminya sang istri menjerit, "AAAAAAA!!!!"

"Hei! tahu kata diam gak! atau mau nyawa suamimu melayang, HAH!" sergah si perampok.

"Ii..iya...saya tidak akan tte..teriak...asal kami jangan diapa-apakan... u..uang ada di lemari... ambil...ambil sa..ja semuanya..."

Suara berisik ternyata membangunkan anak gadis sepasang suami istri itu.
"Ayah..ibu ada apa sih ribut-ribut tengah malam...?" anak itu berdiri di depan pintu kamar kedua sambil mengucek-ngucek matanya. Ia masih setengah sadar

Saat matanya melihat sosok hitam-hitam dengan parang mengarah di leher ayahnya ia menjerit.
"KYaaaaaa!!!"

"HE! jangan teriak! atau bapakmu MATI! mau bapakmu MATI?!" ancam si perampok.

Sang istri bergidik takut, mendengar ancaman si perampok.
"JJ..jangan pak...jangan...ampun....anak saya gak akan teriak," sang istri memohon.

Ibu itu bangkit perlahan hendak menenangkan anaknya.

"Hei mau kemana kamu!"

"Sabar pak..sabar...saya mau tenanganin anak saya...supaya gak teriak..."

Ibu itu bergerak pelan-pelan agar sang penjahat tidak melakukan perbuatan yang gegabah.

Lalu dipeluk anaknya sambil berkata, "Meri, sudah jangan takut...tenang ya...jangan teriak...tenang..."

Diusapnya air mata Meri yang mengalir di pipinya.

"Ada apa sih nih ribut-ribut?"

Seorang pemuda, kakak Meri sekonyong-konyong muncul di depan pintu. Ia langsung berdiri terdiam menyadari situasi di depannya.

"Beno...kita kemasukan perampok...," ucap sang ibu.
"DIAM! SIAPA YANG PERAMPOK, GW BUKAN PERAMPOK! "Semua masuk! masuk ke kamar ini dan kunci pintunya!" perintahnya pria berpakaian serba hitam dan masker hitam itu dengan suara parau.

Dengan gugup ketiganya menuruti perintah perampok itu.

"Kalian memang sial, pakai acara bangun segala, kalau gak kalian pasti selamat! Sekarang kalian mesti gw apain nih"

"Ambil saja uang kami, pak....jangan ganggu keluarga saya," pinta sang suami.

"Ganggu?..hm...lo ngomong gitu...gw jadi kepikiran nih buat ganggu...hehe...boleh juga ide lo...hahaha..."

Mata si perampok memandangi sang ibu dan anak gadisnya. Lalu menggeleng dan berdecak melihat paras dan kulit keduanya.

"Kamu kemari!"

Ibu Meri segera memeluk putrinya.
"Jangan pak...jangan diapa-apain anak saya...," rengeknya.
"Kemari gak...atau nyawa bapaknya melayang!"

Dalam keterpaksaan dan ketakutan Meri berjalan mendekati si perampok sampai ia berdiri tepat di depannya.

"Nah begitu...nurut..."

Si perampok memandangi Meri yang mengenakan daster lengan buntung.

"Berapa umur kamu?"
"ti..tiga belas...tahun..."
"OO...tiga belas tahun ya...," ucapnya memperhatikan CD Meri yang menerawang di dasternya yang agak tipis.
"Dah punya pacar...," tanya si perampok sambil menggapai ujung daster Meri dengan parangnya dan perlahan mengangkatnya ke atas.
"....."
"Hei, jawab donk..kalau ditanya..."
"Be..be..belum...."
Sambil ditanya, Rok Meri makin terangkat dan kedua pahanya mulai terlihat.
"Apa warna kesukaan kamu...?"
"Mm..merah..."
"Oh...warna yang bagus...," ujar si perampok.Lalu Ia menyelipkan parangnya di antara kedua paha Meri dan menggese-gesekan punggungnya ke kemaluan Meri yang masih terbalut CD putih.

Kedua tangan Meri merengut kain dasternya, merasakan suatu sensasi di bawah perutnya.

Melihat putrinya mengalami pelecehan seksual, ibunya ketakutan.
"PAk...tolong pak jangan...jangan. diapa-apain...dia...saya saja pak...saya saja," pintanya sambil menangis.

"Anakmu cantik juga ya....hehe..he..."

Dengan ujung parang, si perampok sedikit menarik turun CD Meri dan mengintip isinya. "Wuih...ck..ck..." sang perampok berdecak kagum melihat kemaluan yang ranum dan kecil itu.

Sang perampok menengok ke arah sang ibu.
"Kamu kesini..."
Sang ibu segera berjalan ke arah sang perampok, agar Meri tidak diapa-apain lagi.

Begitu sudah berjarak selangkah, sang perampok menarik sambil memutar tubuhnya, sehingga ia memeluk ibu Meri dari belakang dan ia menodongkan parangnya ke leher ibu Meri.

"O...jadi kamu mau berbuat apa untukku."

Panik, sedih, ketakutan, marah, jijik perasaan ibu Meri bercampur aduk saat ia mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi demi keselamtan buah hatinya ia menjawab, "Apa aja yang bapak mau....saya akan lakukan..."

"Bagus...bagus...mmm, Meri coba kamu duduk di samping ayahmu dulu gih."

Meri menuruti perintah sang perampok.

"Hei kamu!" Tunjuk sang perampok kepada Beno yang beridir mematung.
"Ii..iya..."
"Kemari...duduk di pinggir tempat tidur, disitu...dekat bapak dan adikmu" tunjuk sang perampok.

Beno melakukan apa yang diinginkan si perampok.

"Sekarang...buka celana kamu..."
"Mm..maksudnya...."
"Jangan pura-pura bego...lakukan saja!"

Ibu Meri kembali memohon, "Jangan pak...kan saya sudah bersedia melakukan apa pun untuk bapak.."

"Diam!"

Beno melorotkan celana pendek dan celana dalamnya dengan mudah. Lalu ia menutupi burungnya.

"Nah sekarang lo buka celana dalam ibu lo."

Beno menelan ludah saat ia disuruh begitu. Sementara ibunya merasa malu bukan main.

"Ayo buka...kalau gak...."
"Ii.iya..pak..."

Beno mengankat daster ibunya hingga seperut. Jantungnye berdegup kencang melihat paha ibunya dan daerah kewantaannya yang terbalut CD.
Perlahan batangnya mulai menegang.
Lalu ia meraih tepian CDnya dan menariknya ke bawah hingga melewati mata kakinya. Seseduah itu ia berdiri berhadap-hadapan dengan ibunya.

"Nah sekarang, lo pegang batang anak lo dan kocok. Kamu...siapa nama lo?"
"Beno, pak."
"Beno, kamu pegang kemaluan ibu kamu dan mainkan..."

Ibu Beno tak kuasa melawan kemauan si perampok, sebagimana sisi parang yang tajam ada tepat di kulit lehernya. Ia pun meraih kejantanan anaknya dengan perasaan berasalah dan mulai mengocoknya. Sementara Beno mengankat daster ibunya dan menyelipkan jemarinya di antara bibir vagina ibunya.

"Ahhh...ah..owh..." lenguh-lenguhan kecil mulai terdengar dari ibu dan anak ini.

Meri meringkuk bersembunyi di balik badan ayahnya sambil mengintip pemandangan yang pernah sekali ia lihat di video di rumah temannya.

"Kamu!" tunjuk si perampok ke ayah Meri.
"Ii..ya"
"Cium anakmu!"

Ayah Meri diam sejenak mendengar perintah si perampok. Sementara walu Meri tidak kepikiran apa-apa yang aneh-aneh, tapi ia merasa bahwa pasti ada sesuatu yang tidak baik di balik perintah itu.

Sang Ayah meraih tubuh Meri lalu mencium kepalanya.

"He! jangan macam-macam ya, jagnan pura-pura bego.. cium di bibir yang mesra."

"Jangan pak..jangan lakukan ni...," pinta ibu Meri, tapi tidak digubris.

Sang ayah pun mulai mencium bibir merah mungil putrinya. Dipagut bibir bawah dan atasnya secara bergantian.

Meri merasa tegang dan canggung melakukan hal ini. Tapi ia diam saja pasrah.

"Suruh anak lo kocok titit lo, ayo."

Sang ayah mengeluaran batangnya dari celananya, dan ia meraih tangan Meri untuk menggenggamnya.
Meri berhenti berciuman dan melotot melihat batang ayahnya yang besar meskipun belum tegang full.

"Dikocok sayang"
"GImana ayah? Meri gak ngerti."

Ayah Meri pun membiming tangan Meri yang kecil bergerak naik dan turun. "Shh...ahhh..." gairah syahwatnya perlahan bangkit.

Sementara itu Beno dan ibunya sudah dilanda birahi. Lubang kemaluan sang ibu sudah becek sekali dimainin tangan anaknya, sampai cairannya ada yang mengalir di pahanya.

"Gimana Beno, enak dikocok ibumu?"

Beno hanya diam, tapi nafasnya memburu. Ia mengangguk

"Sekarang Gw mau lihat lo Setubuhi ibu lo!"

Kakak Meri hanya terdiam mendengar perintah si perampok. Ibu Meri sadar, bahwa tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk melawan perampok bejat ini. Ia menguatkan hatinya untuk melakukan persetubuhan dengan putranya.

"Gak apa-apa Beno, ibu gak akan salahin kamu...sayang"

"Bagus!" si perampok melepaskan ibu Meri.

Beno dan ibunya berhenti memasturbasi satu sama lain. Sang ibu melepaskan dasternya.
Adrenalin terpompa ke darah Beno saat daster itu jatuh ke lantai dan ia melihat tubuh dan payudara orang yang melahirkannya ini.

Sang ibu berpkir untuk menyelesaikannya secepat mungkin, dan semoga perampok itu akan pergi. Ia menarik Beno mengitari ranjang, lalu ia memeluknya sambil membisikkan rencananya ke tellinga Beno.

"Apakah kamu mengerti Beno?"
Beno mengangguk.

Sang Ibu menarik anaknya ke atas ranjang. Lalu dibuka kedua kakinya lebar-lebar. Ia sudah pasrah melakukan hubungan terlarang ini. Cuma sesuatu terjadi di luar dugaannya. Beno bukannya memasukkan batangnya ke lubang senggamanya, malah mengangkangi wajahnya. dan menyorongkan penisnya masuk ke dalam mulutnya.

"Ayo bu, hisap, kulum penis Beno..."
"Beno...kenapa gak yang di bawah saja....?"

"HEI! Ayo sepong titit anakmu!" bentak si perampok.
Diperintah oleh si perampok, Ibu Meri terpaksa menurutinya.

Dengan gerakan perlahan, penis Beno keluar masuk ke dalam mulut ibunya yang terasa hangat dan lembut.
"Shhhaaa aahh yes..."
Nafas Beno memburu merasakan kenikmatan di oral oleh ibunya sendiri.

"Kalian berdua!" tunjuk si perampok kepada Meri dan ayahnya.
"Suruh putri lo hisap penis lo seperti istri lo"

Meri melihat apa yang kakak dan ibunya lakukan di tempat tidur, wajahnya memerah.

"Ayah, Meri gak tahu caranya...."
"Gak apa-apa nanti ayah bimbing yah...."
Ayah Meri merebahkan putrinya di atas tempat tidur, kepalnya disandarkan ke atas bantal. Sesudah itu ia merngarahkan batangnya yang besar ke mulut Meri yang kecil.

"Masukin, sayang, batang ayah ke dalam mulut kamu...nanti ayah yang gerak-gerakin."
Meri menurut, meski ia harus benar-benar membuka mulutnya agar batang itu bisa masuk.

"Shhh ahhhh," lenguh sang ayah

Tangan ayah Meri meraba kemaluan Meri menusuk-nusuknya dengan jarinya.
"MMmmhh..." Meri melenguh tapi suaranya tersumpal benda panjang nan lebar milik ayahnya.

Sementara Beno berpindah dari mulut ke dada ibunya.
"Jepit bu, yang kuat..."
Beno memajumundurkan pinggulnya.
Dada ibu Meri mulai basah dengan sperma Beno yang perlahan-lahan mulai keluar.
Ibu Meri bisa melihat betapa Beno sangat menikmati persetubuhan ini.

Tiba-tiba Beno berdiri dan menarik ibunya berdiri dan memposisikan menungging, kepalanya ada tepat di depan selangkangan Meri. Ibu beno melotot dengan apa yang dilakukan Beno.

"Bagus...! ayo jilat vagina putrimu...!"
Di tengah kebingungan sang ibu mulai menjulurkan lidanya dan menyapu kemalauan putrinya yang sudah basah sebelumnya karena tangan ayahnya.
Sementara dari belakang putranya memompa tubuhnya.

Meri benar-benar di dera rasa nikmat di selangkangannya, seautu yang bbelum pernah ia rasakan seumur hidup.
2 menit dijilati memeknya oleh ibunya, Meri mencapai klimaks. Dinding vaginanya berkedut-kedut dan banjir dengan cairan kewanitaan.

Ayah Meri melihat putrinya klimaks, merubah posisinya ia duduk di ranjang dan bersender ke tembok. Ia angkat tubuh Meri sepeti mengangkat bulu dan mengarahkan batangnya ke kemaluan Meri.

Sang ibu tampak terkejut melihat apa yang dilakukan suaminya.

"Pa! Mau ngapain!? Pa! Pa.!"

Suaminya tidak menjawab. Batangnya yang besar itu pun melesak masuk ke lubang vagina Meri yang kecil dan ranum. Meskipun sudah basah, batang itu masih kesulitan untuk masuk ke dalam.
Meri tampak sudah lemas. Raut wajah Meri menunjukkan ia merasa keaskitan, tapi ia pasrah dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya.

Sang ayah menyetubuhi putrinya yang masih 13 tahun itu, dihadapan istrinya.

"Owh nikmatnya vaginamu, sayang..."

Si Perampok pun tak mau ketinggalan, ia buka celananya dan dan naik ke atas tempat tidur.

"Ayo isap gw" kata si perampok itu ke ibu meri.
Dengan kasar penisnya disodokkan ke mulut wanita itu.
"Owh...enaknya...tahu gini....gw setubuhi lo dari dulu Wati...shh ahh..."

Sontak ibu itu terkejut, medengar si perampok itu tahu namanya.

Si perampok itu pun membuka maske hitamnya.

Betapa terkejutnya sang ibu melihat siapa yang sedang memaksanya untuk mengoral. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ternyata perampok itu adalah ayahnya sendiri.

Setelah kejadian itu barulah terungkap, bahwa ayahnya, suaminya, dan putranya memang sudah berencana untuk menyetubuhi dirinya dan putrinya.

Cerita Seks Teman Kantorku Fatma Yang Semok Alim Terangsang

      Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya ...